Made Adnjani, Dosen Komunikasi Unissula Raih Gelar Doktor dari UGM

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unissula, Made Dwi Adnjani berhasil meraih gelar Doktor dari UGM. Ia telah menyelesaikan ujian disertasi di Fisipol UGM pada Rabu, (7/1/2026). Ujian dipimpin oleh Dekan Fisipol, Wawan Mas’udi SIP MPA PhD. Adapun anggota penguji antara lain Dr M Supraja SSos SH MSi, Amelia Maika MA MSc PhD, Desintha Dwi Asriani SSos MA PhD, Dr M Falikul Isbah GDSoc MA dan Dr Dian Arymami SIP MHum.

Disertasi yang diuji berjudul digital collaborative network dalam aktivisme digital Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi). Disertasi ini berfokus pada jaringan kolaboratif digital dalam aktivisme digital yang dilakukan oleh Jaringan Aktivis Literasi Digital (Japelidi), sebuah komunitas aktivis literasi digital akademik kolaboratif di Indonesia. Penelitiannya didasarkan pada asumsi bahwa gerakan sosial literasi digital di Indonesia masih sporadis, terfragmentasi, tumpang tindih, dan tidak terkoordinasi secara sistematis. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bagaimana jaringan kolaboratif digital Japelidi dibangun dalam aktivisme digitalnya.

Penelitiannya memanfaatkan teori inti Jaringan Kolaborasi Digital oleh Camarinha Matos & Afsarmanesh, yang menyediakan kerangka kerja untuk memahami struktur jaringan lintas aktor, dan 3C Kolaborasi oleh Fuks et al., untuk mengeksplorasi proses kolaboratif melalui komunikasi, koordinasi, dan kerja sama. Teori pendukung menggunakan teori mobilisasi sumber daya untuk menjelaskan bagaimana sumber daya dimobilisasi. Budaya partisipatif, sementara itu, menjelaskan bentuk-bentuk partisipasi digital yang muncul dalam praktik kolaboratif.

Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk mobilisasi sumber daya dan budaya partisipatif yang dilakukan oleh Japelidi. Pengumpulan data melibatkan kombinasi pengamatan peserta online dan offline, wawancara mendalam, dan analisis media dunia maya dari aktivitas Japelidi di berbagai platform digital. Analisis data mengeksplorasi dinamika interaksi, arti partisipasi, dan mobilisasi sumber daya dalam jaringan kolaboratif digital.

Hasilnya menunjukkan bahwa aktivisme digital Japelidi mencerminkan karakteristik gerakan sosial baru yang kolaboratif, partisipatif, dan berbasis jaringan. Mobilisasi sumber daya terjadi melalui pertukaran pengetahuan, keahlian, reputasi akademis, dan legitimasi sosial. Sementara budaya partisipatif dalam Japelidi menunjukkan empat bentuk keterlibatan: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi, tantangan juga muncul, termasuk partisipasi semu, elitisme akademis, dan mengungkap ekonomi politik dalam dinamika aktivisme digital Japelidi. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah semangat solidaritas dan kolaborasi, negosiasi masih terjadi antara idealisme akademis dan kepentingan ekonomi politik.

Temuannya membentuk dasar untuk pengembangan model konseptual Jaringan Kolaborasi Digital Inklusif, yang menggambarkan kolaborasi akademik digital sebagai ruang pembelajaran kolektif, reflektif, partisipatif, dan inklusif. Model ini menekankan bahwa keberhasilan gerakan sosial literasi digital ditentukan tidak hanya oleh kekuatan teknologi dan jaringan, tetapi juga oleh kemampuan aktor untuk mengelola hubungan kekuasaan, etika kolaboratif, dan inklusivitas partisipasi.