Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) kembali menambah jajaran Guru Besar baru. Empat Guru Besar tersebut dikukuhkan oleh Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH dalam Rapat Senat Terbuka yang digelar pada Kamis (12/2/2026).
Tiga Guru Besar berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), yakni Prof Dr H Ardian Ardhiatma SE MM dan Prof Dr Tri Wikaningrum SE MSi sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia, serta Prof Dr Drs Winarsih SE MSi CSRA sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Akuntansi Manajemen. Sampai saat ini FEB Unissula memiliki 21 Guru Besar.
Sementara satu Guru Besar lainnya berasal dari Fakultas Agama Islam (FAI), yakni Prof Dr A Zaenurrosyid SHI MA yang merupakan Guru Besar pertama di FAI Unissula, dengan konsentrasi bidang Ilmu Hukum Islam.
Rektor Unissula Prof Gunarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan Guru Besar bukan sekadar capaian personal, melainkan amanah besar untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat.
“Guru Besar memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk menjadi rujukan keilmuan, menginspirasi generasi muda, serta memperkuat reputasi institusi di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.
Orasi Ilmiah
Pada kesempatan tersebut, Prof Ardian Ardhiatma membacakan orasi ilmiah berjudul Penguatan integrasi knowledge worker dan nilai diri pada era AI.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuka peluang besar untuk peningkatan kinerja dan efisiensi, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru terhadap integritas profesional.
Menurutnya, dengan dilandasi model integritas yang mencakup skill, knowledge, attitude, dan ability, serta berlandaskan nilai-nilai diri yang luhur, para profesional memiliki kesempatan untuk memimpin disrupsi teknologi secara bertanggung jawab.
“Marilah kita jadikan etika profetik sebagai cahaya yang membimbing kita dalam menggunakan AI untuk keadilan dan kesejahteraan umat manusia,” ujarnya.
Sementara itu, Prof Tri Wikaningrum dalam orasinya yang berjudul Islamic collaborative agility capital: implikasinya bagi praktik pengembangan knowledge worker di organisasi intensif pengetahuan menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai Islam, khususnya di sektor perbankan syariah.
Menurutnya, konsep Islamic Collaborative Agility Capital relevan dengan dinamika SDM di perbankan syariah yang menghadapi ekspektasi masyarakat yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan SDM yang terencana dan berkelanjutan, di samping penguatan produk, pemasaran, kerangka hukum, serta implementasi prinsip syariah.
Adapun Prof Winarsih menyampaikan orasi ilmiah berjudul Transformasi akuntansi manajemen di era ai berbasis islamic culture governance.
Ia menjelaskan bahwa transformasi akuntansi manajemen di era AI membawa perubahan mendasar terhadap fungsi dan peran akuntan.
Digitalisasi dan AI terbukti meningkatkan efisiensi pelaporan, kecepatan analisis, serta ketepatan dalam pengambilan keputusan manajerial. Profesi akuntan manajemen kini berkembang menjadi mitra strategis dalam proses bisnis dan inovasi organisasi.
Namun demikian, transformasi ini menuntut akuntan untuk terus meningkatkan kompetensi teknologi, memahami risiko keamanan dan etika, serta mampu beradaptasi dengan peran yang semakin strategis.
Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menghadapi perubahan tersebut.
Sementara itu, Prof Zaenurrosyid mengangkat tema Membangun produktivitas filantropi islam: inovasi fundraising, profesionalisme manajemen, dan distribusi ZISWAF berbasis maqasid syariah.
Ia menekankan bahwa filantropi Islam yang mencakup zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) merupakan sistem sosial ekonomi yang dibangun atas fondasi spiritual, moral, dan keadilan distributif.
Dalam sejarah Islam, praktik filantropi telah menjadi instrumen penting pembangunan peradaban, mulai dari pembiayaan pendidikan, layanan kesehatan, kesejahteraan sosial, hingga pengembangan ekonomi produktif.
Oleh karena itu, inovasi penghimpunan dana, profesionalisme pengelolaan, serta distribusi berbasis maqasid syariah menjadi langkah strategis untuk meningkatkan dampak ZISWAF secara berkelanjutan.
Hadir juga Dekan FEB Unissula Prof Dr Heru Sulistyo SE MSi, Dekan FAI Unissula Dr Agus Irfan SHI MPI, Ketua Umum Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) Prof Dr Bambang Tri Bawono SH MH, jajaran dosen dan tamu undangan, serta Ketua Pembina YBWSA KH Ali Mufiz.






